Pembaca Setia...

Rabu, 17 Jun 2009



Apa itu HIZIB BAHAR ?

Dalam tradisi arab,perkataan Hizib semula itu untuk merujuk sesuatu yang “berduyun-duyun” dan “berkelompok”. Itulah makanya ada kata “Hizbullah”, artinya “sekumpulan” bala tentara yang berjuang atas nama Allah. Tetapi kata Hizbullah sendiri kadang juga digunakan untuk menyebut para malaikat.

Masih segar dalam ingatan kita, ketika Nabi dan para sahabat bertempur melawan kaum musyrikin dalam perang badar, Allah sengaja mendatangkan 5000 pasukan sebagai bala bantuan yang bertandakan putih, mereka adalah para malaikat (Hizbullah).

Kata Hizib sendiri terkadang juga digunakan untuk menyebut “mendung yang berarak” atau “mendung yang tersisa”. Seperti hizbun min al-ghumum (sebagian atau sekelompok mendung)

Ternyata untuk selanjutnya perkembangan kata hizib dalam tradisi tarekat atau yang berkembang di madrasah adalah untuk “menanda'i” sebuah bacaan-bacaan tertentu. Misalnya hizib yang dibaca hari jumaat ; yang dimaksud adalah wirid-wirid tertentu yang dibaca hari jumaat.

Untuk selanjutnya, makna hizib adalah wirid itu sendiri. Atau juga bisa bermakna munajat, ada hizib Ghazaly, Hizib Bukhori, Hizib Nawawi, Hizib Bahar, yang masing-masing memiliki sejarah tersendiri.

Asy Syaikh Abul Hasan Asy Syadzily terkenal sebagai seorang yang memiliki banyak rangkaian doa yang halus dan indah, disamping kekayaan berupa khazanah hizib-hizibnya. Salah satu hizib beliau yang terkenal sejak dulu hingga sekarang adalah Hizib Bahar dan Hizib Nashor. Kedua hizib tersebut banyak diamalkan oleh kaum muslimin diseluruh dunia, terlebih ulama-ulama besar, kendati sebagian dari mereka tidak mengikuti tareka asy syaikh.

Hizib Bahar yang artinya hizib yang di terima asy syaikh Abul Hasan asy Syadzili langsung dari Rasulullah SAW berkaitan dengan lautan yang tidak ada anginnya. Sejarah diterima hizib bahar adalah sebagai berikut :

Pada waktu itu asy syaikh Abul Hasan Asy Syadzili tengah melakukan perjalan ibadah haji ke tanah suci. Perjalanan itu diantaranya harus menyeberangi laut merah. Untuk menyeberangi lautan itu sedianya beliau akan menumpang perahu milik seseorang yang beragama nasrani. Orang itu juga akan berlayar walaupun berbeda tujuan dengan asy syaikh. Akan tetapi keadaan laut pada waku itu sedang tidak ada angin yang cukup untuk menjalankan kapal. Keadaan seperti itu terjadi sampai berhari-hari, sehingga perjalannapun menjadi tertunda. Sampai akhirnya pada suatu hari, asy syaikh bertemu dengan baginda Rasulullah SAW. Dalam perjumpaan itu, Rasulullah SAW secara langsung mengajarkan hizib Bahri secara imla’ kepada asy syaikh.

Setelah hizib Bahri yang baru beliau terima dari Rasulululah SAW itu beliau baca, kemudian beliau menyuruh si pemilik perahu itu supaya berangkat dan menjalankan perahunya. Mengetahui keadaan yang tidak memungkinkan, karena angin yang diperlukan untuk menjalankan perahu tetap tidak ada, orang itupun tidak mau menuruti perintah asy syaikh. Namun asy syaikh tetap menyuruh agar perahu diberangkatkan. “Ayo, berangkat dan jalankan perahumu ! sekarang angin sudah waktunya datang “, ucap asy syaikh kepada orang itu. Dan memang benar kenyataannya, angin secara perlahan-lahan mulai berhembus, dan perahupun akhirnya bisa berjalan. Singkat cerita alkisah kemudian si nasrani itupun lalu menyatakan ingin masuk islam.

Berkata syaikh Abdurrahman al Busthomi, “Hizbul Bahar ini sudah digelar di permukaan bumi. Bendera hizbul bahar berkibar dan tersebar di masjid-masjid. Para ulama sudah mengatakan bahwa hizbul bahar mengandung Ismullohil ‘adhom dan beberapa rahsia yang sangat agung.

Dalam kitab Kasyf al-Zhunun `an Asami al-Kutub wa al-Funun, Haji Khalifah seorang pustakawan terkenal asal Konstantinopel (Istanbul Turki) menulis berbagai jaminan yang diberikan asy Syaikh Abul Hasan Syadzili dengan Hizib Baharnya ini. Di antaranya, menurut Haji Khalifah, Asy Syaikh Syadzili pernah berkata: Seandainya hizibku (Hizib Bahar) ini dibaca di Baghdad, nescaya daerah itu tidak akan jatuh. Mungkin yang dimaksud Asy Syaikh Syadzili dengan kejatuhan di situ adalah kejatuhan Baghdad ke tangan Tartar.

Bila Hizib Bahar dibaca di sebuah tempat, maka termpat itu akan terhindar dari malapetaka, ujar Syaikh Abul al-Hasan, seperti ditulis Haji Khalifah dalam Kasyf al-Zhunun.

Haji Khalifah juga mengutip komentar ulama-ulama lain tentang Hizib Bahar ini. Ada yang mengatakan, bahwa orang yang istiqamah membaca Hizib Bahar, ia tidak mati terbakar atau tenggelam. Bila Hizib Bahar ditulis di pintu gerbang atau tembok rumah, maka akan terjaga dari maksud jahat orang dan seterusnya.

Konon, orang yang mengamalkan Hizib Bahar dengan istiqomah, akan mendapat perlindungan dari segala bala. Bahkan, bila ada orang yang bermaksud jahat mau menceroboh rumahnya, ia akan melihat lautan air yang sangat luas. Si penceroboh akan melakukan gerak renang seperti orang yang akan menyelamatkan diri dari ditelan samudera. Bila di waktu malam, ia akan terus melakukan gerak renang sampai pagi tiba dan pemilik rumah menegurnya.

Banyak komentar-komentar, baik dari Asy Syaikh Syadzili maupun ulama lain tentang keampuhan Hizib Bahar yang ditulis Haji Khalifah dalam Kasyf al-Zhunun jilid 1 (pada entri kata Hizb). Selain itu, Haji Khalifah juga menyatakan bahwa Hizib Bahar telah disyarahi oleh banyak ulama, diantaranya Syaikh Abu Sulayman al-Syadzili, Syaikh Zarruq, dan Ibnu Sulthan al-Harawi.

Seperti yang telah disampaikan dalam manaqib Asy Syaikh Syadzili, bahwa menjelang akhir hayat beliau, asy syaikh telah berwasiat kepada murid-murid beliau agar anak-anak mereka, maksudnya para murid thoriqot syadziliyah, supaya mengamalkan hizib Bahar. Namun untuk mengamalkan Hizib ini sebaiknya harus melalui talqin atau ijazah dari seorang guru yang memiliki ijazah untuk mengajarkannya. Seseorang yang tidak mempunyai ijazah tidak berhak mengajarkannya ataupun memberikan hizib ini kepada orang lain. Hal ini merupakan adabiyah atau etika dilingkungan dunia tarekat.

Dalam Tarekat Syadziliyah Peta Tulungagung, setiap mengamalkan aurod, wirid maupun hizib selalu diawali dengan niat dan kata “Lillahi ta’ala”, setiap murid tidak boleh bertanya apa fadhilah maupun faedah dari wirid ataupun hizib tersebut, karena hal tersebut boleh mengurangi atau menghilangkan keikhlasan. Bagi jamaah Syadziliyah Peta Tulungagung fungsi Hizib itu sendiri adalah untuk meng-Hizib dirinya sendiri, untuk menundukkan hawa nafsunya, sehingga boleh makrifat kepada Allah. Itulah Tujuan utama orang bertarekat, karena kalau tujuannya bukan untuk Allah (bukan Lillahi ta’ala) maka itu akan menjadi Hijab antara dirinya dengan Allah, bukan semakin dekat malah semakin jauh dari Allah SWT, naudzubillahi minzalik.